Buku Milik Anna (Bagian 2)

“Kapan Kakak sampai?” tanya Anna seraya menyerahkan segelas teh hangat. Pria itu menghirup aroma kamomil yang menenangkan. Uap panas mengepul di udara. Anna baru saja menyeduh dengan air yang baru masak. Meskipun tubuh pria itu terasa agak dingin, ia enggan menegaknya segera atau lidahnya akan terbakar. Sekarang, pria itu meletakkan gelasnya di atas meja kaca … Lanjutkan membaca Buku Milik Anna (Bagian 2)

Buku Milik Anna (Bagian 1)

Anna menarik napas panjang. Sambil terus menatap layar komputer jari-jemarinya dibiarkan  menari diatas keyboard. Hari itu menjadi sangat sibuk dan melelahkan bagi Anna. Meskipun pikirannya sedang kacau karena beberapa persoalan tetapi ia tidak bisa melupa pada sejumlah tulisan yang hampir mencapai tenggat waktu setor. Sesekali ia memilin kepalanya atau menegak cairan pekat berkafein untuk membuatnya … Lanjutkan membaca Buku Milik Anna (Bagian 1)